Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bacaan Niat Puasa Ramadhan Lengkap Arab, Latin dan Artinya


Semua ibadah harus dimulai dengan niat, begitu juga untuk ibadah puasa yang dilakukan pada bulan Ramadhan.

Bacaan Niat Puasa Ramadhan Lengkap Arab, Latin dan Artinya


Bacaan Niat Puasa Romadhan Sebulan Penuh
نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرِ رَمَضَانَ كِلِّهِ لِلّٰهِ تَعَالٰى
Nawaitu Shouma Syahri Ramadhana Kullihi Lillahi Ta’ala.
Artinya: “Aku niat berpuasa selama satu bulan penuh pada bulan Ramadhan tahun ini karena Allah Taala”.

Karna dikhawatirkan dalam 1 bulan kadang lupa tidak membaca niat. Niat puasa satu bulan penuh adalah berdasarkan Taqlid (mengikuti pendapat) madhab Imam Malik, dan disini melalui perantara Ashab (Ulama Madhab Imam Syafe'i) yaitu imam Ibnu hajar Al haetamiy.

Bacaan Niat Puasa Romadhan Harian
نـَوَيْتُ صَوْمَ غـَدٍ عَـنْ اَدَاءِ فـَرْضِ شـَهْرِ رَمـَضَانِ هـَذِهِ السَّـنـَةِ لِلـّٰهِ تـَعَالٰى
Nawaitu Shouma Ghodin ‘An-ada-i Fardhi Syahri Ramadhana Hadzihis Sanati Lillahi Ta’ala.
Artinya: “Aku niat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban puasa pada bulan Ramadhan tahun ini karena Allah Taala”.

Kenapa Harus Niatnya Pakai Lafadz رَمَضاَنِ (Romadoni)

يقرأ رمضان بالجر بالكسرة لكونه مضافا إلى ما بعده وهو إسم الإشارة
Romadhoni (ni) dibaca jer  KASROH karena keadaannya menjadi mudhof kepada kalimat setelahnya yaitu isim isyaroh. Karna di idofatkan pada kalimat akhir lafadz hadzihi sanati.
(Kitab I’anatu at-Tholibin, juz 2/253)

رمضان من غير تعيـين
Kewajiban dalam niat adalah ta'yin, sehingga dengan demikian perlu ada kata pembatas yakni hadzihi sanati yang dimudhofkan dengan lafadz romadhon menjadi Romadoni. Dengan jer kasroh.
(Kitab Kasifatusaja hal 7)

_________________________________________________________________________________

Kajian I’rob Lafadz Ramadhan dari Niat Puasa Menurut Nahwu

Kajian Irob Lafadz Ramadhan dari Niat Puasa Menurut Nahwu

Membacakan niat puasa tersebut terdapat lafadz Romadhon yang dalam bahasa ini biasanya orang bermacam-macam dalam membaca harokat akhir dari kalimah tersebut, ada yang Romadhona ada pula yang Romadhoni. Meskipun masalah ini tidaklah merubah dari konsekuensi niat puasa tersebut.

Tetapi jika ditinjau secara ilmu nahwu itu rasanya kurang pas dan kurang tepat apabila terdapat harokat dalam hurup akhir tidak sesuai dengan kaidah ilmu nahwu. Karena bersumber pada keterangan “In Tagoyyurolladzi Tagoyyurol Ma’na” Artinya jika harkat lafadznya berubah maka artinya pun berubah.

Dalam masalah seperti ini tentu sangat di butuhkan kajian ilmu nahwu secara seksama untuk memberikan kepastian dalam membaca lafadz romadhon tersebut sesuai dengan ketentuannya. Untuk jawabannya berikut kutipan dari keterangan dari ustadz terkemuka yang bersumber pada salah satu dalil yang ada pada kitab nahwu tersebut.

Lafadz Romadhon adalah isim ghoiru munshorif (karena isim alam yang ada tambahan alif dan nun), yang apabila majrur maka alamatnya dengan FATHAH, namun apabila menjadi mudhof atau kemasukan Alif-Lam (AL) maka majrurnya isim ghoiru munshorif menggunakan KASROH menjadi ROMADHONI (ni) bukan na.

Imam Ibnu Malik di dalam bait alfiyahnya berkata :
وَجُرَّ بِالْفَتْحَةِ مَالاَ يَنْصَرِفْ * مَالَمْ يُضَفْ أَوْيَكُ بَعْدَ أَلْ رَدِفْ
Artinya : “Dan dijerkan dengan FATHAH terhadap isim yang tidak menerima tanwin, selama tidak dimudhofkan atau berada setelah AL yang mengiringinya.”

Dan karena niat puasa yang dikenal di Indonesia dan Malaysia di akhiri oleh lafadz HADHIHI AS-SANATI (ti), maka hal ini menunjukkan bahwa ROMADHON menjadi mudhof yang harus dibaca jer dengan kasroh menjadi ROMADHONI (ni), bukan na
Sehingga niat puasa Romadhon kalau diucapkan menjadi

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ لِلّه تَعَالَى
“Nawaitu Shouma Ghodin ‘An Adaa-i Fardhi Syahri Romadhooni Hadhihis-Sanati Lillaahi Ta’ala”

Lafadz Romadlon kalau tidak diidlofahkan (dibaca jer dengan kasroh) maka maknanya fasid, karena niat hanya butuh (dzorf) waktu sekejap pada malam dia niat, bukan setahun. Di dalam Kitab I’anatu at-Tholibin, juz 2/253, dijelaskan :
يقرأ رمضان بالجر بالكسرة لكونه مضافا إلى ما بعده وهو إسم الإشارة
Romadhoni (ni) dibaca jer dengan KASROH karena keadaannya menjadi mudhof kepada kalimat setelahnya yaitu isim isyaroh.

Dan niat puasa tetap SAH walaupun salah i’rob di dalamnya, karena letak niat itu di dalam hati. Namun apabila niat diucapkan, maka hendaknya tidak salah dalam i’rob.

Kitab I’anah Thalibin :
(قوله: نويت إلـخ) خبر عن أكملها: أي أكملها هذا اللفظ. (قوله: صوم غد) هو الـيوم الذي يـلـي اللـيـلة التـي نوى فـيها. (قوله: عن أداء فرض رمضان) قال فـي النهاية: يغنـي عن ذكر الأداء أن يقول عن هذا الرمضان. اهــــ. (قوله: بـالـجرّ لإِضافته لـما بعده) أي يقرأ رمضان بـالـجرّ بـالكسرة، لكونه مضافاً إلـى ما بعده، وهو اسم الإِشارة. قال فـي التـحفة: واحتـيج لإِضافة رمضان إلـى ما بعده لأن قطعه عنها يصير هذه السنة مـحتـملاً لكونه ظرفاً لنويت، فلا يبقـى له معنى، فتأمله، فإنه مـما يخفـى. اهــــ. ووجهه: أن النـية زمنها يسير، فلا معنى لـجعل هذه السنة ظرفاً لها. (قوله: هذه السنة).
(إن قلت) : إن ذكر الأداء يغنـي عنه. (قلت) لا يغنـي، لأن الأداء يطلق علـى مطلق الفعل، فـيصدق بصوم غير هذه السنة.
وعبـارة النهاية: واحتـيج لذكره ــــ أي الأداء ــــ مع هذه السنة، وإن اتـحد مـحترزهما، إذ فرض غير هذه السنة لا يكون إلا قضاء، لأن لفظ الأداء يطلق ويراد به الفعل. اهــــ.
وفـي البرماوي: ويسن أن يزيد: إيـماناً واحتساباً لوجه الله الكريـم عزّ وجلّ. اهــــ.

Fokus :
أي يقرأ رمضان بـالـجرّ بـالكسرة، لكونه مضافاً إلـى ما بعده، وهو اسم الإِشارة
Romadhoni dibaca jer dengan tanda kasroh, karena dimudhofkan pada lafadz setelahnya yaitu isim isyaroh (hadzihi) dan adapun Isim ghoiru munsharif itu tidak ditanwin dan tidak dikasroh karena punya illat yang menyebabkan sifat keisimannya lemah, lebih cenderung mirip fi’il. Namun isim ghoiru munshorif ketika dimudhofkan maka sifat keisimannya menjadi kuat, sehingga tanda jer nya pakai kasroh.


Kitab kasyifatussaja hal. 7 :

(تنبـيه) اعلم أن رمضان غير منصرف للعلمية إلا إن كان المراد به كل رمضان من غير تعيـين وإذا أريد به ذلك صرف لأنه نكرة، وبقاء الألف والنون الزائدتين لا يقتضي منعه من الصرف كما قال الشرقاوي
(قَوْلُهُ : بِإِضَافَةِ رَمَضَانَ) أَيْ لِمَا بَعْدَهُ فَنُونُهُ مَكْسُورَةٌ ؛ لِأَنَّهُ مَخْفُوضٌ وَإِنَّمَا اُحْتِيجَ لِإِضَافَتِهِ إلَى مَا بَعْدَهُ ؛ لِأَنَّ قَطْعَهُ عَنْهَا يُصَيِّرُ هَذِهِ السَّنَةَ مُحْتَمَلًا لِكَوْنِهِ ظَرْفًا لِقَوْلِهِ : أَنْ يَنْوِيَ وَلَا مَعْنَى لَهُ ؛ لِأَنَّ النِّيَّةَ زَمَنُهَا يَسِيرٌ ، وَقَالَ بَعْضُهُمْ : إنْ جَرَرْت رَمَضَانَ بِالْكَسْرِ جَرَرْت السَّنَةَ وَإِنْ جَرَرْته بِالْفَتْحِ نَصَبْت السَّنَةَ وَحِينَئِذٍ فَنَصْبُهَا عَلَى الْقَطْعِ ، وَعَلَيْهِ فَفِي إضَافَةِ رَمَضَانَ إلَى مَا بَعْدَهُ نَظَرٌ ؛ لِأَنَّ الْعَلَمَ لَا يُضَافُ فَلْيُتَأَمَّلْ ا هـ

I’rob Lafadz Niat Puasa Romadhon :
نويتُ صومَ غدٍ عن أداءِ فرضِ شهرِ رمضانِ هذه السنةِ لله تعالى نويتُ : فعل وفاعل؛ صومَ : مفعول به منصوب، وعلامة نصبه فتحة؛ غدٍ : مضاف إليه مجرور، وعلامة جره كسرة؛ عن : حرف جر مبني على السكون؛ أداء : مجرور بِعَنْ، وعلامة جره كسرة، وهو مضاف لما بعده؛ فرض : مضاف إليه مجرور، وعلامة جره كسرة، وهو مضاف أيضا لما بعده؛ شهر : مضاف إليه مجرور، وعلامة جره كسرة، وهو مضاف أيضا لما بعده؛ رمضان : مضاف إليه مجرور، وعلامة جره كسرة، وهو مضاف أيضا لما بعده؛ هذه : اسم إشارة مبني في محل جر بالإضافة، وعامل جر المضاف إليه: قيل المضاف، وقيل الإضافة، وقيل حرف الجر المحذوف، وقيل غير ذلك؛ السنة : مشار إليه لاسم الإشارة (هذه) فهو بدل أو عطف بيان له، مجرور، وعلامة جره كسرة

Kitab Nihayatuz Zain dan Albaijuri :
نويت صوم غد عن اداء فرض رمضان هذه السنة لله تعالى ايمانا و احتسابا باضافة رمضان الى ما بعده لتتميزعن اضدادها و يغنى عن ذكر الاداء ان يقول عن هذا الرمضان و احتيج لذكره مع هذه السنة و ان اتحد محترزهما اذ فرض غير هذه السنة لا يكون الا قضاء لان لفظ الاداء يطلق و يراد به الفعل كذا قاله الرملى نهاية الزين ١٨٦
قوله : رمضان هذه السنة ) باضافة رمضان الى اسم الاشارة لتكون الاضافة معينة لكونه رمضان هذه السنة البيجورى ١/٤٣٠

Kesimpulannnya :
1.        Lafadz Romadhon adalah isim ghoir munshorif (dengan illat ‘alam + nun) dan merupakan isim ma’rifat bila yang dimaksud adalah bulan romadhon pada tahun tertentu, namun merupakan isim nakiroh bila dimaksudkan semua bulan romadhon yang ada pada semua tahun, seperti penjelasan dalam kitab kasyifatus sajaa’.
2.        Kewajiban dalam niat adalah ta’yin, sehingga dengan demikian perlu ada kata pembatas yakni hadzihi sanati yang dimudhofkan dengan lafadz romadhon dengan faedah tamyiz (pembeda).
3.        Dalam bait alfiah di atas juga dijelaskan isim ghoir munshorif jika menjadi mudhof maka tanda jernya dengan kasroh.
4.        Tidak ada konsekwensi (niatnya tetap sah) ketika dibaca romadhona atau romadhoni, kecuali si pengucap bisa dikatagorikan kurang fasih karena tidak bisa mendatangkan lafad sesuai makna yang dikehendaki… (nulayani ilmu ma’ani).

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

elzeno
elzeno Pengalaman adalah Guru Terbaik. Oleh sebab itu, kita pasti bisa kalau kita terbiasa. Bukan karena kita luar biasa. Setinggi apa belajar kita, tidahlah menjadi jaminan kepuasan jiwa, yang paling utama seberapa besar kita memberi manfaat kepada sesama.

Posting Komentar untuk "Bacaan Niat Puasa Ramadhan Lengkap Arab, Latin dan Artinya"

Formulir Kontak

Nama Email * Pesan *