Salah satu amalan yang sangat dianjurkan ketika terjadi atau melihat fenomena gerhana adalah melaksanakan sholat sunnah. Ibadah ini termasuk dalam kategori sunnah muakkad, yaitu jenis ibadah yang sangat dianjurkan dilaksanakan oleh umat Islam.
(و) القسم الثاني من النفل ذي السبب المتقدم وهو ما تسن فيه الجماعة صلاة (الكسوفين) أي صلاة كسوف الشمس وصلاة خسوف القمر وهي سنة مؤكدة
Jenis kedua adalah sholat sunah karena suatu sebab terdahulu, yaitu sholat sunah yang dianjurkan untuk dikerjakan secara berjamaah yaitu sholat dua gerhana, sholat gerhana matahari dan sholat gerhana bulan. Ini adalah sholat sunah yang sangat dianjurkan. (Lihat Syekh Nawawi Banten, Nihayatuz Zein, Bandung, Al-Maarif, tanpa keterangan tahun, halaman 109).
Hal ini sebagaimana penjelasan Syekh Abu Syuja' berikut:
وَصَلَاةُ الْكُسُوْفِ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ ، فَإِنْ فَاتَتْ لَمْ تُقْضَ
Sholat gerhana (baik matahari atau bulan) hukumnya sunnah muakkadah (sangat dianjurkan), dan jika terlewat, tidak ada kewajiban untuk mengqodhonya. (Syekh Abu Syuja', Matan Ghoyah wat Taqrib, [Beirut: Daar Ibnu Hazm, 2005 M/1425 H], halaman 102).
Pengertian Sholat Kusufaini
Sholat Kusufaini ialah sholat dua gerhana yakni sholat karena ada gerhana bulan atau gerhana matahari. Gerhana bulan dalam bahasa Arab disebut “Khusuf”, sedangkan gerhana matahari disebut “Kusuf”.
Aturan Pelaksanaan
Adapun aturan pelaksanaan sholat gerhana ini ialah memuat beberapa tahapan. Yakni, sholat dilakukan sebanyak dua rokaat, dengan ketentuan setiap rokaat melakukan dua kali qiyam, dua kali rukuk, dan dua kali i'tidal (berdiri dari rukuk).
Keterangan ini berdasarkan penjelasan Syekh Muhammad bin Qosim dalam kitab Fathul Qorib:
وَيُصَلِّي لِكُسُوْفِ الشَّمْسِ وَخُسُوْفِ الْقَمَرِ رَكْعَتَيْنِ ، يُحْرِمُ بِنِيَّةِ صَلَاةِ الْكُسُوفِ ، ثُمَّ بَعْدَ الافْتِتَاحِ وَالتَّعَوُّذِ يَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ وَيَرْكَعُ ، ثُمَّ يَرْفَعُ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ ، ثُمَّ يَعْتَدِلُ ، ثُمَّ يَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ ثَانِيَاً ، ثُمَّ يَرْكَعُ ثَانِيَا أَخَفَّ مِنَ الَّذِي قَبْلَهُ ، ثُمَّ يَعْتَدِلُ ثَانِيًا ، ثُمَّ يَسْجُدُ السَّجْدَتَيْنِ بِطُمَأْنِيْنَةٍ فِي الْكُلِّ ، ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَةً ثَانِيَةً بِقِيَامَيْنِ وَقِرَاءَتَيْنِ وَرُكُوْعَيْنِ وَاعْتِدَالَيْنِ وَسُجُوْدَيْنِ.
Sholat gerhana, baik matahari maupun bulan, dikerjakan dua rokaat. Dimulai dengan niat sholat gerhana, kemudian setelah takbirotul ihrom dan membaca doa iftitah serta ta'awudz, lalu membaca Al-Fatihah dilanjutkan rukuk. Setelah itu bangun dari rukuk, berdiri dengan tegak, kemudian kembali membaca Al-Fatihah untuk kedua kalinya, lalu rukuk lagi (yang kedua) dengan lebih ringan dari rukuk pertama. Setelah itu berdiri kembali (i'tidal), lalu sujud dua kali dengan tuma'ninah. Kemudian pada rokaat kedua dilakukan dengan tata cara yang sama: dua kali berdiri dengan bacaan (qiyam), dua kali rukuk, dua kali i'tidal, dan dua kali sujud. (Syekh Muhammad bin Qosim, Fathul Qorib, [Beirut: Daar Ibnu Hazm, 2005 M/1425 H], halaman 102).
Setelah salam, diikuti dengan dua khutbah mirip pelaksanaan khutbah sholat Idul Fitri atau Idul Adha.
Sebagaimana keterangan di bawah ini:
وَيَخْطُبُ الإِمَامُ بَعْدَهُمَا ، أَيْ : بَعْدَ صَلَاةِ الْكُسُوْفِ وَالْخُسُوْفِ خُطْبَتَيْنِ كَخُطْبَتَيْ الْجُمُعَةِ فِي الْأَرْكَانِ وَالشُّرُوطِ ، وَيَحُثُ النَّاسَ فِي الْخُطْبَتَيْنِ عَلَى التَّوْبَةِ مِنَ الذُّنُوبِ ، وَعَلَى فِعْلِ الْخَيْرِ مِنْ صَدَقَةٍ وَعِلْقٍ وَنَحْوِ ذَلِكَ.
Setelah selesai sholat gerhana, imam menyampaikan dua khutbah, yang rukunnya dan syaratnya sama dengan khutbah Jumat. Dalam khutbah tersebut, jamaah dianjurkan untuk bertaubat dari dosa-dosa, memperbanyak amal kebaikan seperti sedekah, membebaskan budak (atau bentuk amal sosial lainnya), melakukan amal kebajikan, dan sejenisnya. (Syekh Muhammad bin Qosim, Fathul Qorib, [Beirut: Daar Ibnu Hazm, 2005 M/1425 H], halaman 102).
Secara umum pelaksanaan sholat gerhana matahari (Kusuf) dan sholat gerhana bulan (Khusuf) diawali dengan sholat sunah dua rokaat dan setelah itu disusul dengan dua khutbah seperti Sholat Idul Fitri atau Sholat Idul Adha di masjid. Hanya saja bedanya, setiap rokaat sholat gerhana dilakukan dua kali rukuk. Sedangkan dua khutbah setelah sholat gerhana matahari atau bulan tidak dianjurkan takbir sebagaimana khutbah kedua sholat Id.
Jamaah sholat gerhana adalah semua umat Islam secara umum sebagai jamaah sholat Id. Sedangkan imamnya dianjurkan adalah pemerintah atau naib dari pemerintah setempat.
Bacaan Niat Sholat Gerhana
Niat Sholat Gerhana Matahari
أُصَلِّي سُنَّةَ اْلكُسُوفِ رَكْعَتَيْنِ (إِمَامً\مَأمُومًا) لله تَعَالَى
Ushollii Sunnatal Kusuufi Rok'ataini Imaaman / Makmuuman Lillaahi Ta'aalaa.
Saya menyengaja sholat sunah gerhana matahari dua rokaat sebagai imam / makmum karena Alloh SWT.
Niat Sholat Gerhana Bulan
أُصَلِّي سُنَّةَ الخُسُوفِ رَكْعَتَيْنِ (إِمَامً\مَأمُومًا) لله تَعَالَى
Ushollii Sunnatal Khusuufi Rok'ataini Imaaman / Makmuuman Lillaahi Ta'aalaa.
Saya sengaja sholat sunah gerhana bulan dua rokaat sebagai imam / makmum karena Alloh SWT.
Sholat gerhana bisa dilakukan sendiri (munfarid), jika dilakukan sendiri atau tidak berjamaah, maka cukup menghilangkan lafadz (Imaman / Makmuman). Akan tetapi karena dianjurkan untuk khutbah setelah selesai sholat, maka lebih utama dilakukan dengan berjamaah.
Tata Cara Sholat Gerhana
Jumlah rokaat sholat gerhana adalah 2 rokaat dengan 4 kali ruku' dan 4 kali sujud, yakni pada rokaat setelah ruku' dan i'tidal membaca Surat Al-Fatihah lagi, kemudian ruku' sekali lagi dan i'tidal lagi, kemudian sujud dan seterusnya sebagaimana sholat pada umumnya.
Pada rokaat kedua juga dilakukan seperti pada rokaat yang pertama. Dengan demikian, sholat gerhana dilakukan dengan 4 ruku', 4 Fatihah, dan 4 sujud.
Berikut ini tata cara sholat sunnah gerhana, yang dikutip dari keterangan kitab Hasyiyah I'anatut Tholibin karya Muhammad Syatho ad-Dimyathi.
- Niat di dalam hati ketika takbiratul ihram.
- Mengucap takbir ketika takbirotul ihrom sambil niat di dalam hati.
- Membaca ta'awudz dan surat Al-Fatihah. Setelah itu baca surat Al-Baqoroh atau bacaan sepanjang itu.
- Rukuk dengan membaca tasbih sepanjang bacaan 100 ayat dari Al-Baqoroh.
- Qiyam, berdiri lagi untuk membaca Surat Al-Fatihah. Setelah itu baca surat Ali Imron atau membaca kira-kira 200 ayat dari surat Al-Baqoroh.
- Rukuk dengan membaca tasbih selama membaca 80 ayat surat Al-Baqoroh.
- I'tidal, dengan membaca doa i'tidal.
- Sujud dengan membaca tasbih selama rukuk pertama.
- Duduk di antara dua sujud.
- Sujud kedua dengan membaca tasbih selama rukuk kedua.
- Duduk istirahat atau duduk sejenak sebelum bangkit untuk mengerjakan rokaat kedua.
- Bangkit dari duduk, lalu mengerjakan rokaat kedua dengan gerakan yang sama dengan rokaat pertama. Bedanya, pada rokaat kedua (qiyam yang ketiga) dianjurkan membaca surat An-Nisa' atau membaca sekitar 150 ayat dari surat Al-Baqoroh setelah membaca surat Al-Fatihah.
- Setelah itu rukuk (yang ketiga) dengan membaca tasbih selama membaca 70 dari ayat surat Al-Baqoroh.
- Qiyam (yang keempat), berdiri lagi untuk baca Surat Al-Fatihah. Setelah itu baca surat Al-Maidah atau membaca kira-kira sekitar 100 ayat dari surat Al-Baqoroh.
- Rukuk (yang keempat), dengan membaca tasbih selama membaca 50 ayat dari surat Al-Baqoroh.
- Dilanjutkan i'tidal hingga duduk kedua, seperti halnya rokaat pertama.
- Ditutup dengan tahiyat akhir dan salam.
Perlu diketahui, bahwa tata cara pelaksanaan di atas adalah yang paling utama (afdhol). Namun, dari beberapa bacaan dalam sholat gerhana bisa diringkas, seperti membaca surat Al-Fatihah saja sebanyak empat kali pada dua rokaat tanpa dilanjutkan dengan membaca ayat-ayat atau surat dalam Al-Qur'an.
Selain itu, boleh juga mengganti surat-surat panjang sebagaimana yang dianjurkan itu dengan surat pendek setiap kali selesai membaca surat Al-Fatihah.
Keterangan tersebut dijelaskan oleh Imam Ghozali dalam kitab Ihya' Ulumiddin berikut ini:
وَلَوِ اقْتَصَرَ عَلَى الْفَاتِحَةِ فِي كُلِّ قِيَامٍ أَجْزَأَهُ، وَلَوِ اقْتَصَرَ عَلَى سُوَرٍ قِصَارٍ فَلَا بَأْسَ، وَمَقْصُودُ التَّطْوِيلِ دَوَامُ الصَّلَاةِ إِلَى الانْجِلَاءِ.
Jika hanya membaca Al-Fatihah pada setiap berdiri, itu pun sudah sah. Dan bila hanya membaca surat-surat pendek, maka tidak mengapa. Dan tujuan dari memperpanjang bacaan adalah agar shalat berlangsung hingga selesai gerhana. (Abu Hamid al-Ghozali, Ihya Ulumiddin, [Maktabah Syamilah, tt], juz 1, halaman 203).
Waktu Pelaksanaan
Dalam sholat gerhana bulan, bacaan dilakukan dengan keras (jahron), sedangkan pada gerhana matahari dibaca dengan samar (sirron).
Artinya, bacaan Surat Al-Fatihah dan Suratan dalam sholat gerhana bulan dinyaringkan, sedangkan dalam sholat gerhana matahari tidak dinyaringkan.
Adapun waktu berakhirnya sholat gerhana adalah:
- Sholat kusuf (gerhana matahari) berakhir dengan kembalinya matahari normal (tidak gerhana) atau dengan terbenamnya matahari saat masih dalam keadaan gerhana.
- Sholat khusuf (gerhana bulan) berakhir dengan hilangnya gerhana atau terbitnya matahari. Tidak berakhir dengan terbit fajar atau tenggelamnya bulan dalam keadaan masih gerhana. Maka, shalat ini tidak dianggap terlewat kecuali dengan dua hal tersebut.
Khutbah Sholat Gerhana
Setelah selesai sholat, Imam atau orang yang diberi wewenang menyampaikan dua khutbah sholat gerhana dengan taushiyah agar jamaah beristighfar, semakin taqwa kepada Alloh, tobat, sedekah, memerdedakan budak (pembelaan terhadap kelompok masyarakat marjinal), dan lain sebagainya.
Selama gerhana masih berlangsung, maka kesunahan sholat dua rokaat gerhana tetap berlaku. Sedangkan dua khutbah sholat gerhana boleh tetap berlangsung atau boleh dimulai meski gerhana sudah usai.
Demikian keterangan singkat terkait aturan, tata cara, dan waktu pelaksanaan sholat gerhana. Semoga bermanfaat dan bisa menambah wawasan keislaman kita.
Wallohu A'lam...